extraordinary..

Your Tagline

  • 22nd May
    2013
  • 22
  • 22nd May
    2013
  • 22
Ada kalimat yang memang perlu dipendam dulu beberapa waktu sampai hati kita yakin dan tak menyesal atas apapun yang terjadi setelahnya.
Tia Setiawati Priatna (via karenapuisiituindah)
  • 21st May
    2013
  • 21
Dalam hidup itu ada tiga manusia terdekat. Orang tua, pasangan, dan anak. Semuanya diberikan sebagai takdir. Kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan oleh ibu yang mana. Kita juga tidak akan pernah bisa memilih mendapatkan anak yang seperti apa. Tapi, kita masih mungkin memilih pasangan kita. Walau jodoh ditangan Tuhan, tapi kita diberi kesempatan untuk berupaya keras mendapat pasangan terbaik

Rantau 1 Muara - A. Fuadi

(via kurniawangunadi)

(via risalatulamanah)

  • 21st May
    2013
  • 21
Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya perbendaharaan dunia. Akan tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah rasa cukup di dalam hati.
H.R Bukhari (via elvinadiah)
  • 21st May
    2013
  • 21
  • 21st May
    2013
  • 21

Untuk mendapatkan hati wanita, kamu tak perlu mengkondisikan dirimu sang rupawan, sang pujaan. Tak perlu juga wanita itu menyukaimu. Satu kunci untuk mendapatkannya, ciptakan kenyamanan. Kenyamanan adalah kuncimu mendapatkan kejujuran seorang wanita. Kenyamanan adalah kunci untuk kamu dapat membuka banyak loker di kepala dan hati mereka, dan kenyamanan adalah alat yang akan membantumu bernafas ketika akan menyelami hati terdalam dari seorang wanita.

edited from Zenna Sabrina

(Source: raisyabachri, via kurniawangunadi)

  • 19th May
    2013
  • 19
MASGUN: Tulisan: Aku Menikahi Almamater (mu)

kurniawangunadi:

ni adalah tulisan yang berangkat dari sebuah pernyataan di lini masa milik Andina Avika beberapa waktu yang lalu. Ada salah satu menikah jenis baru, yaitu menikahi almamater. Tidak hanya itu, lebih spesifik lagi adalah menikahi almamater-jurusan-dan profesi.


Semakin kesini, semakin aneh-aneh saja pemikiran para remaja yang terkontaminasi oleh pemikiran-pemikiran materialistis tentang keduniawian yang teramat sangat.

Lagi-lagi harus dibahas masalah seperti ini, ya tidak apalah, toh orang seumuran kita memang sedang pada masanya. Pabila pun ada anak SMA yang rajin menyimak tulisan dengan “genre” seperti ini. Anggap saja sedang belajar munakahat ya dek :)

Lagi-lagi aku dihadapkan pada sudut pandang baru, adalah sebuah gejala yang secara tidak disadari merasuk dalam jiwa-jiwa para akademisi yang mencari pendamping hidup dan mati.

Hei …

Kini, almamater tidak hanya berguna bagi para pencari kerja yang melamar kesana kemari. Tapi melamar atau dilamar pun beberapa orang menelisik almamater.

Ada seorang laki-laki jebolan kampus terbaik se Indonesia raya mendamba pendamping seorang dokter. Jika kamu bukan anak FK, maka sejak awal kamu tidak akan masuk kriterianya.

Ada seorang perempuan lulusan kampus termegah seindonesia raya. Kita ini laki-laki dari kampus pinggiran, urung, berpikir hendak mendekati saja tidak berani.

Sejak kapan kita menanamkan dalam diri kita sendiri dengan standar-standar keduniawian untuk menilai seseorang. Apakah kamu malu jika kamu berijazah kampus terbaik sementara perempuanmu sekedar dari kampus entah dimana dan jurusan yang sama sekali tidak menarik minat anak SMA untuk mendaftarnya.

Apakah ketinggian sekolahmu membuatmu memasang kriteria tinggi pula (dlm hal sekolah formal) untuk pendamping hidupmu? Apakah sebenarnya yang kamu cari? Keturunan super briliant dengan kecerdasaan diatas rata-rata? Teman diskusi super cerdas setiap malam tentang berbagai permasalahan pekerjaan, negara, dan politik?

Apakah kamu melupakan salah satu ilmu kebaikan yang selalu didengungkan semasa kita kanak-kanak.

Nak, jadilah seperti padi, semakin berisi, ia semakin menunduk.

Adakah ketinggian almamatermu membuatmu enggan melihat kebawah? Apakah kamu akan menggugurkan segala kebaikan seseorang hanya karena dia lulusan D3 (misal)? Astaga.

Aku yakin, sekian banyak dari kita mengalami hal seperti ini saat ini. Merasa minder dengan seseorang yang dirasai diatas kita, berasal dari kampus yang sangat baik sementara kita entah apa.

Aku yakin, sekian banyak dari kita pun mengalami, kesombongan diri yang melihat bahwa kita ini lebih baik dari yang lain. Merasa orang lain tidak selevel dengan kita hanya karena masalah, sekolah formal. Mendamba teman bicara dengan kapasitas yang sama, merasa bahwa dengan derajat sekolah formal yang sama akan lebih nyambung bicaranya. Bicara apa dulu ?

Adakah kita berpikir jernih, menanggalkan segala atribut kesarjanaan. Kita adalah sesama manusia, laki-laki dan perempuan. Ada fitrah yang diciptakan diantara kita.

Aku pernah berdiskusi tentang ini kepada kakak kelasku yang baik, dia seorang perempuan dengan sekolah yang sangat cemerlang.

Laki-laki tidak perlu merasa rendah diri hanya karena derajat sekolah formal. Perempuan tetaplah perempuan.

Pun perempuan, tak perlu merasa dirinya terlalu tinggi hingga memasang standar yang sangat tinggi pula, kamu lulusan S2, maka pelamarmu haruslah S3, minimal S2 lah. Ada banyak kebijaksanaan laki-laki yang tidak terlihat dari sekedar titel sarjana.

Kita semua merasai, sadar atau tidak sadar.

Seorang perempuan di ujung sana mendamba laki-laki yang dikenalnya. Yang berada di kampus terbaik di negerinya. Sedang ia merasa sebagai butiran debu, merasa tidak masuk perhitungan sama sekali.


Ada seorang laki-laki diujung sana, mendamba seorang dokter jelita. Hendak maju merasa hina, hendak mundur perasaan tiada lupa. Apa yang harus diperbuat.

Percayalah, urusan seperti ini itu selalu akan rumit jika dipikirkan. Yang perlu kita lakukan adalah, percaya. Karena selama ini kita seringkali mengabaikan adanya campur tangan Tuhan. Merasa segala hal akan tercapai dengan usaha kita sendiri.

Ah tulisan ini rumit, aku tidak bisa menyelesaikannya dengan baik. Paling tidak, kalian memahami sesuatu dan merasai sesuatu. Bukankah kita selama ini seringkali seperti itu?

Bandung, 19 Mei 2013

(via risalatulamanah)

  • 19th May
    2013
  • 19
Batu-batu kali bukan tak berharga seperti permata, tapi ia punya posisi sendiri yang gunanya sangat berharga.
Dananjaya (via indonesiasastra)
  • 19th May
    2013
  • 19
Santun, adalah sikap utama yang harus dimiliki setiap insan yang berpendidikan. Tanpanya, kepintaran dan kecerdasan yang dimilikinya akan menjadi sia-sia.

Ibu Susan Suryanto, Penggagas PIKPL Semanggi, dalam Bincang Edukasi #20 

(via kurniawangunadi)

(Source: jamikanasa, via kurniawangunadi)

  • 19th May
    2013
  • 19
urusan hati memang rumit dan unik

siapa pula yang belum pernah jatuh cinta? atau sekedar suka pada seseorang. entah itu berbalas ataupun tidak. tapi, bagi kita yang suka pada seseorang maka bukan hak kita juga untuk memaksa orang tersebut suka sama kita. “seringkali orang jatuh cinta itu egois”, kata Om Tere Liye. “tidak ada orang yang nyuruh dia jatuh cinta, tapi maksa orang lain membalas cintanya”.tambahnya.

bagi yang sedang jatuh cinta dan tidak berbalas, mari kita mencoba berpikir realistis.”barangkali ada orang di luar sana yang diam-diam mengharapkan kita, mau menerima kita apa adanya”, kata seorang teman. buka hati kita untuk orang lain. memang sulit melupakan, tapi bukan tidak mungkin.kita pun tidak perlu melupakan.cukup terbiasa saja tanpa bayang-bayangnya.sibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan positif.”kesibukan fisik akan mengalihkan kesibukan hati”, kata Om Tere lagi.

dunia gak akan berhenti kok kalo kamu gak bersamanya.bantu orang yang kita suka pula untuk menjalani hidupnya, menikmati masa mudanya tanpa beban karena disukai oleh kita.bisa jadi kan dia terbebani karena merasa belum siap.apalagi kalo dia suka dengan orang lain lagi.duh, nasib.yang terpenting sekarang netralin hati kita. kalo hati kita belum netral akan sangat sulit untuk menerima hati yang baru.

so, we must go on, move on guys.

(via inemaya2)

Cinta itu diperjuangkan, bukan dipaksakan. Dan mengetahui apakah itu cinta bukan nafsu atau pelampiasan sepi semata, ya nanyanya cuma sama Sang Maha Memiliki Hati, Maha Pembolak-Balik Hati. Minta ditunjukkan, minda dimudahkan, akan datang berbagai keajaiban, jalankan! Kalau udah dikasi berbagai macam petunjuk, tapi masih membutakan hati, ya jangan salahkan diri kalau penyesalan datang nanti - ayuprissa

(via ayuprissa)

(via ragilliarach)